Secangkir kopi, Bab 2

Tidak ada yang aneh di acara ini, Nur El dinn mengenakan kemeja setelan hitam, rambut mengkilap berminyak dengan wajah berseri, berdiri di ujung pintu rumah sambil menyalami tamu yang berbaris, dengan motivasi aneh. Sebagian ingin memberikan selamat pada tamu lain, sebagian mereka yang muda hanya ingin berusaha menarik lawan jenis dengan setelan baru. Para wanita tampak lebih malu-malu berkerumun disudut ruang sambil sesekali melirik kesudut ruang lain dengan harapan para pria memandang atau mungkin sekedar memberi kan signal ketertarikan pada mereka.
Hari ini Nur El-Dinn Menikahi Ragasha, sudah menjadi kebiasaan bagi mempelai pria untuk menjamu tamu dan mengucapkan rasa terima kasih kepada para pengunjung yang hadir di hari itu.
Nur El-Dinn berjalan mengitari kemudian bergerak menghampiri ruangan dimana ia melihat Yusuf sahabat nya sedang berkerumun dengan para sahabat lainya, Yusuf sebenarnya lebih tepat di sebut sebagai seorang penasehat daripada sebagai seorang sahabat.
Nur El-Dinn bergerak menghampiri sahabatnya seraya berujar pelan setengah membisik ke telinga yusuf dan bertanya pelan “ adakah kau melihat Akhmad hari ini ? “ yusuf membalas dengan gelengan kepala dan berkata “ Hampir 2 minggu ini aku tak melihat Akhmad menginjakkan kaki keluar rumah “ kemudian yusuf memandang sejenak wajah Nur El-Dinn dan berujar menambahi kalimat sebelumnya “ Semoga acara ini tidak menjadikan siapapun diantara kita menjadi berkurang kebahagiaannya “ Nur El-Dinn hanya menunundukkan kepala dan berkata “ tidak ada kebahagiaan yang berkurang takarannya, karena aku tidak mengambil apapun kecuali remah-remah sisa dari seekor pelanduk “ Yusuf membalas kalimat Nur El-Dinn hanya dengan senyuman ringan dan menepuk pundak lelaki yang telah menjadi temannya selama bertahun-tahun itu.
Nur El-Dinn beringsut pergi meninggalkan yusuf, yang bergumam sambil memandang jauh kearah jendela seraya berkata “ Semoga engkau memiliki kantung yang tebal agar ia tak tercecer kembali “.
Sebenarnya Nur El-Dinn cukup merasa tidak nyaman dengan apa-apa yang dikatakan oleh yusuf, akan tetapi perasaan nya terhadap Ragsha membuat semua ketidak nyamanan itu menjadi hilang. Nur El-Dinn mempunyai seribu alas an didunia yang membenarkan tindakannya.
Tamu- tamu mulai beranjak pergi satu persatu kawan, sahabat, tetangga, orang yang mungkin tak pernah dikenalnya mulai berpamitan, sedikit demi sedikit penat mulai mencengkram pundak Nur El-Dinn, dengan gontai menuju kamar pengantin.
Langkah terhenti didepan pintu suara aneh seperti suara burung hantu terdengar dari kamar, dengan pelan Nur El-Dinn memutar gagang pintu dan masuk dengan setengah mengendap, ia bergerak menuju ranjang pengantin berwarna keemasan kemudian menyibak kelambu ranjang pengantin itu dengan pelan, ia melihat seorang wanita berbaring dengan make up tebal, tertidur pulas, mengeluarkan suara dengkuran aneh seperti burung hantu, dengan ujung bibir basah karena liur yang mengalir dari mulutnya.
“Tampaknya tak ada roti kering hari ini “ ujar Nur El-Dinn lemah. Memang hal kecil terkadang membuat kita kehilangan selera makan.
Nur El-Dinn membaringkan tubuhnya disebelah kanan sisi ranjang, “ ini benar – benar hari yang buruk “ ujarnya dalam hati. Iringan suara dengkuran menemani Nur El-Dinn terlelap menuju awal sebuah mimpi buruk.
………………000000………………...
Pagi tampak cerah hai ini sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela menyentil wajah Raghasa yang penuh dengan garis putih di pipi, ia memutar tubuhnya menghadap kea rah sisi kanan ranjang, ia melihat tubuh kurus berbalut dengan setelan hitam terbaring terlelap tak bergerak, mukanya penuh dengan bekas luka cacar, giginya yang kuning menyembul dari ujung bibir yang hitam dan tebal, minyak di rambutnya membekas dibantal.
Dengan senyum lebar Raghasa bangun dari ranjang dan bersyukur bahwa ia telah melewatkan malam ini.
Apa yang membuat kedua orang tua Raghasa menikahkannya dengan Nur El-Dinn tetap menjadi sebuah misteri yang besar baginya. Tetapi Raghasa tahu bahwa orang tua nya memiliki tujuan yang baik. Raghasa tidak terlalu memikirkan apa-apa, baginya pria adalah salah satu bentuk permainan dikala penat, sekadar menghilangkan kepeningan dikepala.
Sambil melangkah menuju dapur Raghasa teringat bahwa hari ini ia mesti pergi ke tukang jahit untuk mengepas pakaian yang akan dipakainya besok pada pertemuan keluarga, ia ingin terlihat cantik dihari itu.
Setelah selesai berpakaian dan berpatut di cermin, Raghasa bergerak menghampiri suaminya yang masih meringkuk diranjang, menepuk pundak dan dadanya sambil berkata “ Tampaknya kau harus mulai melakukan tugasmu sebagai suami “, Nur El-Dinn menggeliat kemudian mengerjapkan matanya, ia melihat istrinya telah berpatut cantik semuanya tampak sempurna, bibirnya, rambutnya, pipinya, serta wangi tubuhnya semua hanpir berbaur sempurna dengan keindahan, tetapi sebuah tepukan keras di dahinya membuyarkan semua lamunannya “ Hei, berhentilah menatapku seperti itu “ sergah Raghasa. “ maaf, tetapi ijinkan lah aku membersihkan diri, aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini “ sambut Nur El-Dinn “ apa maksudmu, berikan aku 50 baisha !!! aku ingin menjahit baju untuk pertemuan keluarga besok, apa yang sebenarnya ada dipikiran mu tidak mungkin terjadi hari ini besok atau di kehidupan mendatang sayang, jadi sebaiknya engkau tetap bersabar !!!!!
Nur El-Dinn terhenyak seperti hampir pingsan rasanya ia akan melewatkan sarapan pagi ini, semua kenikmatan di dunia tidak bisa menghilangkan persaan aneh yang bercampur di kepalanya, lehernya seperti terganjal tapal kuda.
Ia beranjak menuju lemari, menari sebuah laci kecil mengambil uang tanpa menghitung kemudian menyerahkan kepad a istrinya, tanpa berkata-kata. “ Terima Kasih Sayang, Aku akan pulang agak malam, ku harap kau bisa mengurus dirimu sendiri “ balas Raghasa sambil menyambar tumpukan uang yang ditangan suaminya. “ o…. ya, aku lupa mengatakan, Tampaknya kau harus sering menyikat gigimu, engkau tahu engkau harus menjaga apa Kelebihan yang Tuhan berikan padamu, Sayang “
Hampir saja Nur El-Dinn menangis mendengar kata-kata terakhir dari istrinya namun ini telah terjadi entah bagaimana ia harus menghadapi masalah baru ini, semoga 20 tahun mendatang ia tidak menjadi gila karenanya.
Raghasa segera pergi bergegas meninggalkan rumah nya, dipikirannya hanya ada keinginan menemui Yusuf, satu-satu nya tukang jahit yang dapat menyulam hasratnya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home