Gandum

Dua hari yang lalu saat ladang gandum mulai menguning memantulkan aura aneh, ahmad El-Fakhri ( bukan nama sebenarnya ), duduk didekat teras rumahnya sambil memandangi ladang itu dengan fokus pandangan yang kabur. Sudah hampir tiga minggu ia tak bergerak dari rumahnya, ibunya yang pemintal hanya bisa diam memandangi anak semata wayangnya sambil terkadang menyajikan susu hangat disore hari untuk anaknya, tanpa sapaan yang berarti ia meletakkan cawan susu dan beringsut pergi sambil mengeluarkan gerutu aneh mirip suara burung hantu.
Ahmad El-Fakhri beranjak dari teras dan masuk kekamarnya tanpa menyentuh cawan susu yang dihidangkan sang ibu untuknya, rupanya teman kita ini lebih memilih haus dari pada harus meminum susu buatan ibunya. Baginya susu dan madu sudah terasa hambar semenjak 3 bulan terakhir.
Banyak yang mengatakan bahwa Ahmad El-Fakhri sebenarnya adalah pemuda cerdas namun lebih suka mengurung diri di rumahnya semenjak ia gagal meneruskan pendidikannya, atau sebagian orang yang tak mau berpikir panjang mengatakan ia sebenarnya telah gila karena putus cinta, tak ada yang tahu sebenarnya.
Dua tahun yang lalu Ahmad El-Fakhri adalah pemuda riang yang selalu bisa menyenangkan setiap orang, ia memiliki teman-teman yang setiap saat bersedia duduk untuk bersendau gurau dengannya
Malam itu sebenarnya hari sudah dingin tapi Ahmad El-Fakhri melangkah keluar dari pintunya dan menuju keteras sambil membawa catatan kecil yang ia selipkan disaku, dengan leher berbalut syal ia berjalan menuju teras, ia menyandarkan punggung nya di tembok berdebu sambil mulai membaca catatannya yang usang. Sehelai foto terjatuh, gambar seorang gadis dengan pemerah bibir tipis dengan rambut kemerahan jatuh tergolek di lantai, kemudian ia memungut sambil berguman " aku seharusnya bersama mu".
Ingatan Ahmad El-Fakhri meloncat menembus dinding melewati atap rumah menuju dua tahun yang lalu ketika ia berjalan dengan seorang gadis dipinggiran ladang gandum sambil menceritakan hal yang tak perlu dan menyambungnya dengan tawa lepas. Empuknya tangan gadis itu membuatnya nyaris merasa bahwa ia sedang menggenggam kapas, warna kemerahan rambutnya nyaris berbaur dengan cahaya matahari sore, tapi semua itu di buyarkan ketika mereka seorang wanita tua yang membawa tumpukan benang putih dengan suara setengah menjerit memanggil namanya.
Ibu Ahmad El-Fakhri menegur nya sambil menyerahkan tumpukan benang di tangannya ia berkata " bukankah aku telah mengatakan padamu, jangan lah engkau membenamkan dirimu dalam dosa dengan anak si peminjam uang itu, kau dapat mencari perempuan lain yang lebih tepat dari pada engkau menghabiskan waktumu dengan anak si peminjam uang " ibu Ahmad El-Fakhri menghela napas sambil melanjutkan khotbahnya " tahukah kau nak!! darahnya!, Kulitnya!, daging serta tulangnya ! di susun dari suatu yang tak dapat kau ketahui asalnya, dan kau tak seharusnya mencoba mejadi satu dengannya!!!" ibu Ahmad El-Fakhri mengakhiri kata-katanya dengan tapapan setengah memohon, Ahmad El-Fakhri menyahut dengan terbata-bata "Ya". Ahmad El-Fakhri mendorong pintu rumah dengan sedikit pelan ia bergerak menuju kamar, dan mulai menulis surat.
Dua bulan kemudian ia mendengar bahwa Nur El-dinn sahabatnya akan menikah dengan anak si peminjam uang itu , Ahmad El-Fakhri hampir tak bisa berkata-kata ia hanya duduk didepan teras rumahnya sambil memberi selamat dengan senyum secerah bulan dipagi hari kepada sahabatnya yang sore itu datang membawa kabar teraneh sepanjang hidupnya.
Semenjak hari itu Ahmad El-Fakhri teman kita ini hanya mampu duduk memandangi ladang gandum sambil berandai-andai bahwa sebenarnya ia adalah gandum itu sendiri, pikirannya yang aneh membiarkan nya merasa menjadi satu dengan goyangan helai gandum yang diterpa angin dan hal ini berlanjut selama hampir dua tahun. Seorang pemuda yang menyangka dirinya gandum itulah Ahmad El-Fakhri.
Ahmad El-Fakhri menyadari bahwa ia tak dapat membantah kehendak ibunya, tak ada satupun ajaran didunia yang membolehkan kita mengecewakan hati seorang ibu, apalagi semenjak kecil ia hanya seorang diri, ayahnya seorang pekerja keras yang memiliki sebidang ladang gandum didepan rumahnya, ia mati terpeleset ketika sedang membawa karung gandum yang akan dipindahkan nya ke gudang rumah, waktu itu Ahmad El-Fakhri masih berusia 3 tahun, semenjak itu Ahmad El-Fakhri berpikir untuk tidak mencintai gandum dengan berlebihan mungkin Ahmad El-Fakhri takut, jika ia mencintai gandum berlebihan ia akan berakhir seperti ayahnya. Tetapi anehnya dua tahun ini ia berpikir bahwa dirinya adalah ladang gandum, mungkin karena ladang gandum selalu di tuai ketika berwarna mulai kekuningan dan ia juga mulai merasa hancur ketika ia sudah mulai matang, tak yang ada tahu pasti.
Angin malam itu mulai dingin ia melihat ibu Ahmad El-Fakhri bergerak dari gudang disebelah rumah sambil memanggul sekarung gandum, ia berjalan pelan pelan menuruni tangga gudang, tiba-tiba ujung kerudungnya tergerai tersapu angin malam, gerai kerudung itu melingkar pelan membungkus kaki ibu Ahmad El-Fakhri kemudian terdengar suara tubuh terhempas bersamaan suara karung yang menghamtam daging, Ahmad El-Fakhri memandangi tubuh tambun yang baru saja mencium tanah basah tanpa reaksi yang jelas, hampir 5 menit ia memandangi tubuh itu.
Ahmad El-Fakhri beranjak mendekati tubuh ibunya, memandangi wajah tanpa napas milik ibunya ia mengusap pipinya seraya berkata " Aku bisa membawa diriku sendiri !!! ".

1 Comments:
lama menghilang, jangan-jangan gara-gara patah hati karena cinta ga di restuin ya??? ;-)
Post a Comment
<< Home