Carpe Diem
Duduk dipayungi fiber berwarna dari sebuah sebuah halte bus, dengan pipi merona-bara senyum yang sekan selalu menempel di wajahnya, ia memegang bagian bawah perutnya yang ditutupinya dengan tas, agak sakit memang setelah tadi malam tapi sensasi yang ia rasakan selama hampir 20 detik tadi malam, membuat seakan-akan lepas ruh dari raganya, menjadikan rasa sakit itu seperti tak berarti. Semua warna terlihat cerah, semua wajah terlihat merona dan seakan-akan semua orang yang lalu lalang tersenyum padanya. Tak ada kalimat yang dapat membuatnya sedih, tak ada suasana yang dapat merusak hatinya.Ini merupakan bungkus ketiga coklat merek snicker yang ditelannya dengan rakus sambil duduk dihalte bis tanpa tahu harus menunggu apa , sudah lima bis dengan tujuan kampus yang ia lewatkan, ia merasa betah duduk disini ditemani pedagang koran yang lalu lalang.Ibunya pasti akan menangis darah jika ia mengetahui, klo anaknya baru saja menghilangkan Sesuatu yang dianggap suci oleh wanita tahun 70-an, dan menyerah kannya pada seorang yang baru dikenalnya tidak lebih dari 48 jam, ia baru berumur 20 tahun 4 bulan dan 3 hari kemarin malam, dan pada umur 20 tahun 4 bulan dan 4 hari, hari ini tentunya ia merasakan kebahagiaan yang berlebihan, euphoria mungkin.Memori nya meloncat menuju sebuah ruangan hotel dengan ranjang Victoria beraroma harum dari sebuah lilin aroma terapi bercampur aroma vodka dan after shave suara lelaki seksi berumur 28 tahun itu membisikkan “Carpe Diem,carpe diem, carpe diem, gather roses while you can” seakan berusaha mengatakan nikmatilah malam ini, aku akan melakukan semua yang membahagiakanmu.Suara deruman mobil truk sampah dan aromanya yang khas membuyarkan aroma laki-laki dari lamunan semalam, ia meraih handphone nya menekan nomor dan tak berapa lama terdengar suara “ hallo okke “ jawabnya diujung sana “aliza tampaknya kita harus bertemu malam ini” sahut perempuan itu “baik aku akan menjemputmu jam 9malam ini seperti kemarin” laki-laki itu menimpali “ok, bye” wanita itu menutup pembicaraan dengan senyum yang hampir memperlihatkan ke 32 giginya yang putih seperti permen chiclet.Langkah kaki ringan, awan mendorong tubuhnya, ayo beranjaklah malam teriaknya dalam hati pada matahari “Carpe Diem, Gather roses while you can” teriaknya lagi dalam hati.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home