Saturday, December 16, 2006

gibberish II

inilah sebagian yang terjadi di kehidupan sebagian dari manusia memilih melepas previllage dan berusaha menjadi apa yang dia inginkan, pendapat karakter lain menjadi absurd dan tidak semestinya patut menjadi acuan.
Kehendak harusnya menjadi berbeda dengan harapan, dan lari menjauh dari yang terjadi. Seharusnya menjadi tidak semestinya, dan yang lebih patut menjadi pilihan ke dua.
option or optional, semua keputusan yang ada pada manusia menjadi hak sepenuhnya bagi individu itu sendiri.
pembelaan yang mutlak relatif, menjadikan haknya bersebrangan dengan manusia lainnya.

Monday, August 28, 2006

yippie ka ye MotherFucker !!!!!!!

Baru detik ini saya dapat melihat karakter seseorang tanpa bertatap muka. Sebagian manusia menyangka diri amatlah cerdas dengan bentuk usaha yang teramat aneh. Tanpa mau-malu terkadang dia meniru style orang lain, membuat pembelaan yang aneh, dengan motif mendapat penghargaan dari orang lain sebagai manusia yang lebih unggul.

Yang sama sekali saya tidak pahami adalah bagaimana seseorang bisa tertarik untuk mendekati seseorang dengan karakter tersebut. Walaupun tidak memiliki alas an yang kuat untuk lebih menghalangi niat seseorang tapi apakah ia tidak bisa melihat keanehan yang muncul dari karakter tersebut.

Kecenderungan yang melibatkan perasaan membuat beberapa karakter cenderung menjadi buta.

Ingin rasanya saya menarik kepala mereka dan memberikna guratan yang jelas dengan bayonet diatas dahi mereka dengan kata-kata “ WAKE UP “, dunia tidak berputar karena anda. Walaupun tanpa ada dunia tetap berputar dengan sendirinya sesuai dengan takdirnya.

Hampir saya tertawa berurai airmata, membaca untaian kata-kata aneh yang digoreskan di sehelai kertas berpendar. “ Egomaniak “ pikir saya, tidak ada larangan didunia untuk menjadi egomaniak, tapi sadarlah “ you look damn weird “.

Friday, August 18, 2006

Secangkir kopi, Bab 2


Tidak ada yang aneh di acara ini, Nur El dinn mengenakan kemeja setelan hitam, rambut mengkilap berminyak dengan wajah berseri, berdiri di ujung pintu rumah sambil menyalami tamu yang berbaris, dengan motivasi aneh. Sebagian ingin memberikan selamat pada tamu lain, sebagian mereka yang muda hanya ingin berusaha menarik lawan jenis dengan setelan baru. Para wanita tampak lebih malu-malu berkerumun disudut ruang sambil sesekali melirik kesudut ruang lain dengan harapan para pria memandang atau mungkin sekedar memberi kan signal ketertarikan pada mereka.

Hari ini Nur El-Dinn Menikahi Ragasha, sudah menjadi kebiasaan bagi mempelai pria untuk menjamu tamu dan mengucapkan rasa terima kasih kepada para pengunjung yang hadir di hari itu.

Nur El-Dinn berjalan mengitari kemudian bergerak menghampiri ruangan dimana ia melihat Yusuf sahabat nya sedang berkerumun dengan para sahabat lainya, Yusuf sebenarnya lebih tepat di sebut sebagai seorang penasehat daripada sebagai seorang sahabat.

Nur El-Dinn bergerak menghampiri sahabatnya seraya berujar pelan setengah membisik ke telinga yusuf dan bertanya pelan “ adakah kau melihat Akhmad hari ini ? “ yusuf membalas dengan gelengan kepala dan berkata “ Hampir 2 minggu ini aku tak melihat Akhmad menginjakkan kaki keluar rumah “ kemudian yusuf memandang sejenak wajah Nur El-Dinn dan berujar menambahi kalimat sebelumnya “ Semoga acara ini tidak menjadikan siapapun diantara kita menjadi berkurang kebahagiaannya “ Nur El-Dinn hanya menunundukkan kepala dan berkata “ tidak ada kebahagiaan yang berkurang takarannya, karena aku tidak mengambil apapun kecuali remah-remah sisa dari seekor pelanduk “ Yusuf membalas kalimat Nur El-Dinn hanya dengan senyuman ringan dan menepuk pundak lelaki yang telah menjadi temannya selama bertahun-tahun itu.

Nur El-Dinn beringsut pergi meninggalkan yusuf, yang bergumam sambil memandang jauh kearah jendela seraya berkata “ Semoga engkau memiliki kantung yang tebal agar ia tak tercecer kembali “.

Sebenarnya Nur El-Dinn cukup merasa tidak nyaman dengan apa-apa yang dikatakan oleh yusuf, akan tetapi perasaan nya terhadap Ragsha membuat semua ketidak nyamanan itu menjadi hilang. Nur El-Dinn mempunyai seribu alas an didunia yang membenarkan tindakannya.

Tamu- tamu mulai beranjak pergi satu persatu kawan, sahabat, tetangga, orang yang mungkin tak pernah dikenalnya mulai berpamitan, sedikit demi sedikit penat mulai mencengkram pundak Nur El-Dinn, dengan gontai menuju kamar pengantin.

Langkah terhenti didepan pintu suara aneh seperti suara burung hantu terdengar dari kamar, dengan pelan Nur El-Dinn memutar gagang pintu dan masuk dengan setengah mengendap, ia bergerak menuju ranjang pengantin berwarna keemasan kemudian menyibak kelambu ranjang pengantin itu dengan pelan, ia melihat seorang wanita berbaring dengan make up tebal, tertidur pulas, mengeluarkan suara dengkuran aneh seperti burung hantu, dengan ujung bibir basah karena liur yang mengalir dari mulutnya.
“Tampaknya tak ada roti kering hari ini “ ujar Nur El-Dinn lemah. Memang hal kecil terkadang membuat kita kehilangan selera makan.

Nur El-Dinn membaringkan tubuhnya disebelah kanan sisi ranjang, “ ini benar – benar hari yang buruk “ ujarnya dalam hati. Iringan suara dengkuran menemani Nur El-Dinn terlelap menuju awal sebuah mimpi buruk.

………………000000………………...

Pagi tampak cerah hai ini sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela menyentil wajah Raghasa yang penuh dengan garis putih di pipi, ia memutar tubuhnya menghadap kea rah sisi kanan ranjang, ia melihat tubuh kurus berbalut dengan setelan hitam terbaring terlelap tak bergerak, mukanya penuh dengan bekas luka cacar, giginya yang kuning menyembul dari ujung bibir yang hitam dan tebal, minyak di rambutnya membekas dibantal.

Dengan senyum lebar Raghasa bangun dari ranjang dan bersyukur bahwa ia telah melewatkan malam ini.

Apa yang membuat kedua orang tua Raghasa menikahkannya dengan Nur El-Dinn tetap menjadi sebuah misteri yang besar baginya. Tetapi Raghasa tahu bahwa orang tua nya memiliki tujuan yang baik. Raghasa tidak terlalu memikirkan apa-apa, baginya pria adalah salah satu bentuk permainan dikala penat, sekadar menghilangkan kepeningan dikepala.

Sambil melangkah menuju dapur Raghasa teringat bahwa hari ini ia mesti pergi ke tukang jahit untuk mengepas pakaian yang akan dipakainya besok pada pertemuan keluarga, ia ingin terlihat cantik dihari itu.

Setelah selesai berpakaian dan berpatut di cermin, Raghasa bergerak menghampiri suaminya yang masih meringkuk diranjang, menepuk pundak dan dadanya sambil berkata “ Tampaknya kau harus mulai melakukan tugasmu sebagai suami “, Nur El-Dinn menggeliat kemudian mengerjapkan matanya, ia melihat istrinya telah berpatut cantik semuanya tampak sempurna, bibirnya, rambutnya, pipinya, serta wangi tubuhnya semua hanpir berbaur sempurna dengan keindahan, tetapi sebuah tepukan keras di dahinya membuyarkan semua lamunannya “ Hei, berhentilah menatapku seperti itu “ sergah Raghasa. “ maaf, tetapi ijinkan lah aku membersihkan diri, aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini “ sambut Nur El-Dinn “ apa maksudmu, berikan aku 50 baisha !!! aku ingin menjahit baju untuk pertemuan keluarga besok, apa yang sebenarnya ada dipikiran mu tidak mungkin terjadi hari ini besok atau di kehidupan mendatang sayang, jadi sebaiknya engkau tetap bersabar !!!!!

Nur El-Dinn terhenyak seperti hampir pingsan rasanya ia akan melewatkan sarapan pagi ini, semua kenikmatan di dunia tidak bisa menghilangkan persaan aneh yang bercampur di kepalanya, lehernya seperti terganjal tapal kuda.

Ia beranjak menuju lemari, menari sebuah laci kecil mengambil uang tanpa menghitung kemudian menyerahkan kepad a istrinya, tanpa berkata-kata. “ Terima Kasih Sayang, Aku akan pulang agak malam, ku harap kau bisa mengurus dirimu sendiri “ balas Raghasa sambil menyambar tumpukan uang yang ditangan suaminya. “ o…. ya, aku lupa mengatakan, Tampaknya kau harus sering menyikat gigimu, engkau tahu engkau harus menjaga apa Kelebihan yang Tuhan berikan padamu, Sayang “

Hampir saja Nur El-Dinn menangis mendengar kata-kata terakhir dari istrinya namun ini telah terjadi entah bagaimana ia harus menghadapi masalah baru ini, semoga 20 tahun mendatang ia tidak menjadi gila karenanya.

Raghasa segera pergi bergegas meninggalkan rumah nya, dipikirannya hanya ada keinginan menemui Yusuf, satu-satu nya tukang jahit yang dapat menyulam hasratnya.

Tuesday, August 15, 2006

roses are red violet are blue, is that all u said is true ?

Setiap manusia cenderung memiliki bentuk perthanan diri, hal ini lebih merupakan bentuk insting dan refleks. Bentuk pertahanan diri bagi seseorang dapat berupa bebagai macam cara. Sebagian dari mereka menggunakan kata-kata yang provokatif, sebagian dari mereka menggunakan sisi kecerdasan mereka un tuk mengolah berbagai alasan, thesis, kemungkinan dan atau weak spot dari suatu pernyataan.

Pada dasarnya bentuk pertahanan diri tersebut adalah usaha untuk menutupi kelemahan. Walaupun tidak semua bentuk pertahanan diri dapat dianggap sebagai bentuk tindakan yang digunakan individu atau seseorang untuk menutupi, dan atau melengkapi dan atau membenarkan pendapat yang dilontarkan ke publik.

Jika setiap individu cenderung menggunakan sifat instingtif nya untuk mempertahankan argumen sebenarnya kita tidak akan bergerak dari tempat kita berpijak, hal ini jelas menjadi suatu mungkin. Sehingga kita terjebak dalam lingkaran pembahasan pendapat baru yang tidak berkesudahan.


Yang lebih hebat lagi beberapa dari kita menunjukkan superioritas dibandingkan yang lainnya dengan berusaha menggunakan keyakinan, dan atau agama, dan atau faith, or else creed sebagai alat pembenaran terhadap pendapat kita. Sungguh suatu ironi bila kita mengkondisikan suatu keyakinan sebagai alat untuk menangkal pendapat seseorang.

Padahal dalam keyakinan itu sendiri tindakan seperti itu sebenarnya tidak dibenarkan, tapi inilah hidup “ manusia memiliki kebebasan, dan dengan kebebasan itu ia sudah membatasi kebebasan orang lain untuk berpendapat “

Hukum atau dalam level yang lebih rendah dianggap sebagai teori, bukan merupakan bentuk pembatasan terhadap pola berpikir , tak ada argumen yang menolak pernyataan tersebut diatas, memang disadari suatu tolak ukur dapat diambil dalam bentuk satuan yang telah ditentukan dan atau ditemukan sebelumnya, tapi seyogyanya kita tidak terpaku dalam satu ukuran baku yang membuat kita berada dalam kesempitan pola berpikir ( narrow minded, or shal I say Shallow minded ).

Sesuatu perbuatan yang cenderung instingtif membuat segala seuatu berjalan dengan cepat dan dengan hasil yang semestinya lebih destruktif. Pendapat tidak akan menjadi lebih kuat dengan menunjukkan keberhasilan pribadi kepada publik sebagai salah satu bentuk kenginan untuk menunjukkan superioritas, karane prestasi yang draih seseorang tidak dapat dijadikan sebagai salah satu landasan dalam suatu argumen.

Hal yang bersifat subjektif jelas ditolak dalam suatu bentuk pengolahan pendapat karena ia akan mengaburkan substansi penting dari suatu pernyataan.

Pada akhirnya kesimpulan yang dapat ditarik “ Siapapun anda tidak akan menjadikan anda mutlak lebih benar daripada orang lain ”, banyak individu yang secara tidak sadar mengemukakan pendapat dengn menggunakan prestasi pribadi sebagai alat penguat suatu argumen.

Pendapat yang saya tulis pada akhirnya juga tidak mutlak berada dalam sisi kebenaran, jadi gak usah terlalu dipikirin deh !!!!! bikin tambah puyenggg !!!.

Hasta la vista babyyy

Friday, August 11, 2006

the art of ssssssssssst !!!!!!!!!


hehehe dalam wadah apapun anda berada ego tetap ada dlm diri anda ini adalah salah satu design, saya juga gak paham kenapa jadinya mirip sayuran tapi lumayanlah


hehehehehehhe

Wednesday, July 19, 2006

sedikit

Menjadi tidak menulis, atau berusaha mencari sesuatu yang riil dengan menulis menyebabkan kita menjadi diam atau berusaha ingkar dari apa yang sebenarnya kita inginkan.

Setelah manusia menghadapi penghinaan ia menjadi lebih mulia dari yang sebenarnya, jika ia mampu lepas dari kemungkinan membiarkan amarah menyeretnya.

Wednesday, November 09, 2005

Gandum


Dua hari yang lalu saat ladang gandum mulai menguning memantulkan aura aneh, ahmad El-Fakhri ( bukan nama sebenarnya ), duduk didekat teras rumahnya sambil memandangi ladang itu dengan fokus pandangan yang kabur. Sudah hampir tiga minggu ia tak bergerak dari rumahnya, ibunya yang pemintal hanya bisa diam memandangi anak semata wayangnya sambil terkadang menyajikan susu hangat disore hari untuk anaknya, tanpa sapaan yang berarti ia meletakkan cawan susu dan beringsut pergi sambil mengeluarkan gerutu aneh mirip suara burung hantu.

Ahmad El-Fakhri beranjak dari teras dan masuk kekamarnya tanpa menyentuh cawan susu yang dihidangkan sang ibu untuknya, rupanya teman kita ini lebih memilih haus dari pada harus meminum susu buatan ibunya. Baginya susu dan madu sudah terasa hambar semenjak 3 bulan terakhir.

Banyak yang mengatakan bahwa Ahmad El-Fakhri sebenarnya adalah pemuda cerdas namun lebih suka mengurung diri di rumahnya semenjak ia gagal meneruskan pendidikannya, atau sebagian orang yang tak mau berpikir panjang mengatakan ia sebenarnya telah gila karena putus cinta, tak ada yang tahu sebenarnya.
Dua tahun yang lalu Ahmad El-Fakhri adalah pemuda riang yang selalu bisa menyenangkan setiap orang, ia memiliki teman-teman yang setiap saat bersedia duduk untuk bersendau gurau dengannya
Malam itu sebenarnya hari sudah dingin tapi Ahmad El-Fakhri melangkah keluar dari pintunya dan menuju keteras sambil membawa catatan kecil yang ia selipkan disaku, dengan leher berbalut syal ia berjalan menuju teras, ia menyandarkan punggung nya di tembok berdebu sambil mulai membaca catatannya yang usang. Sehelai foto terjatuh, gambar seorang gadis dengan pemerah bibir tipis dengan rambut kemerahan jatuh tergolek di lantai, kemudian ia memungut sambil berguman " aku seharusnya bersama mu".
Ingatan Ahmad El-Fakhri meloncat menembus dinding melewati atap rumah menuju dua tahun yang lalu ketika ia berjalan dengan seorang gadis dipinggiran ladang gandum sambil menceritakan hal yang tak perlu dan menyambungnya dengan tawa lepas. Empuknya tangan gadis itu membuatnya nyaris merasa bahwa ia sedang menggenggam kapas, warna kemerahan rambutnya nyaris berbaur dengan cahaya matahari sore, tapi semua itu di buyarkan ketika mereka seorang wanita tua yang membawa tumpukan benang putih dengan suara setengah menjerit memanggil namanya.
Ibu Ahmad El-Fakhri menegur nya sambil menyerahkan tumpukan benang di tangannya ia berkata " bukankah aku telah mengatakan padamu, jangan lah engkau membenamkan dirimu dalam dosa dengan anak si peminjam uang itu, kau dapat mencari perempuan lain yang lebih tepat dari pada engkau menghabiskan waktumu dengan anak si peminjam uang " ibu Ahmad El-Fakhri menghela napas sambil melanjutkan khotbahnya " tahukah kau nak!! darahnya!, Kulitnya!, daging serta tulangnya ! di susun dari suatu yang tak dapat kau ketahui asalnya, dan kau tak seharusnya mencoba mejadi satu dengannya!!!" ibu Ahmad El-Fakhri mengakhiri kata-katanya dengan tapapan setengah memohon, Ahmad El-Fakhri menyahut dengan terbata-bata "Ya". Ahmad El-Fakhri mendorong pintu rumah dengan sedikit pelan ia bergerak menuju kamar, dan mulai menulis surat.
Dua bulan kemudian ia mendengar bahwa Nur El-dinn sahabatnya akan menikah dengan anak si peminjam uang itu , Ahmad El-Fakhri hampir tak bisa berkata-kata ia hanya duduk didepan teras rumahnya sambil memberi selamat dengan senyum secerah bulan dipagi hari kepada sahabatnya yang sore itu datang membawa kabar teraneh sepanjang hidupnya.
Semenjak hari itu Ahmad El-Fakhri teman kita ini hanya mampu duduk memandangi ladang gandum sambil berandai-andai bahwa sebenarnya ia adalah gandum itu sendiri, pikirannya yang aneh membiarkan nya merasa menjadi satu dengan goyangan helai gandum yang diterpa angin dan hal ini berlanjut selama hampir dua tahun. Seorang pemuda yang menyangka dirinya gandum itulah Ahmad El-Fakhri.
Ahmad El-Fakhri menyadari bahwa ia tak dapat membantah kehendak ibunya, tak ada satupun ajaran didunia yang membolehkan kita mengecewakan hati seorang ibu, apalagi semenjak kecil ia hanya seorang diri, ayahnya seorang pekerja keras yang memiliki sebidang ladang gandum didepan rumahnya, ia mati terpeleset ketika sedang membawa karung gandum yang akan dipindahkan nya ke gudang rumah, waktu itu Ahmad El-Fakhri masih berusia 3 tahun, semenjak itu Ahmad El-Fakhri berpikir untuk tidak mencintai gandum dengan berlebihan mungkin Ahmad El-Fakhri takut, jika ia mencintai gandum berlebihan ia akan berakhir seperti ayahnya. Tetapi anehnya dua tahun ini ia berpikir bahwa dirinya adalah ladang gandum, mungkin karena ladang gandum selalu di tuai ketika berwarna mulai kekuningan dan ia juga mulai merasa hancur ketika ia sudah mulai matang, tak yang ada tahu pasti.
Angin malam itu mulai dingin ia melihat ibu Ahmad El-Fakhri bergerak dari gudang disebelah rumah sambil memanggul sekarung gandum, ia berjalan pelan pelan menuruni tangga gudang, tiba-tiba ujung kerudungnya tergerai tersapu angin malam, gerai kerudung itu melingkar pelan membungkus kaki ibu Ahmad El-Fakhri kemudian terdengar suara tubuh terhempas bersamaan suara karung yang menghamtam daging, Ahmad El-Fakhri memandangi tubuh tambun yang baru saja mencium tanah basah tanpa reaksi yang jelas, hampir 5 menit ia memandangi tubuh itu.
Ahmad El-Fakhri beranjak mendekati tubuh ibunya, memandangi wajah tanpa napas milik ibunya ia mengusap pipinya seraya berkata " Aku bisa membawa diriku sendiri !!! ".